Analisis Faktor Risiko Dominan terhadap Kejadian Demam Tifoid pada Kelompok Usia 5–19 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Pulau Bunyu

Penulis

  • Aisyah Amatullah UMHT

DOI:

https://doi.org/10.35730/jk.v16i3.1411

Abstrak

Demam tifoid tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang persisten di Indonesia, khususnya di daerah dengan akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi. Pulau Bunyu di Kalimantan Utara merupakan salah satu wilayah endemik di mana demam tifoid secara konsisten menempati tiga besar penyakit menular yang paling banyak dilaporkan. Anak-anak dan remaja usia 5–19 tahun merupakan kelompok yang paling rentan karena aktivitas luar rumah yang lebih tinggi, praktik kebersihan yang kurang baik, serta sering terpapar makanan dan minuman yang tidak aman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko dominan yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid pada individu usia 5–19 tahun di wilayah kerja Puskesmas Pulau Bunyu.

Penelitian ini menggunakan desain kasus-kontrol dengan jumlah responden 120 orang, terdiri dari 24 kasus (didiagnosis demam tifoid dalam enam bulan terakhir) dan 96 kontrol (tidak menderita demam tifoid pada periode yang sama). Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur yang telah divalidasi. Variabel yang diteliti meliputi faktor demografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan), faktor perilaku (kebiasaan cuci tangan pakai sabun, kebiasaan jajan), faktor lingkungan (ketersediaan sarana air bersih, penyediaan tempat pembuangan sampah), serta pengetahuan orang tua tentang demam tifoid. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk analisis bivariat dan regresi logistik berganda untuk analisis multivariat.

Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian demam tifoid pada jenis kelamin laki-laki (p=0,001; OR=6,059), kebiasaan cuci tangan pakai sabun yang buruk (p=0,002; OR=5,909), sarana pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat (p=0,025; OR=3,258), kebiasaan jajan berisiko (p=0,039; OR=3,128), dan pengetahuan orang tua yang rendah (p=0,042; OR=2,931). Analisis regresi logistik multivariat mengidentifikasi empat faktor risiko dominan, yaitu: jenis kelamin laki-laki (OR=5,863; 95% CI=1,828–18,801), kebiasaan cuci tangan pakai sabun yang buruk (OR=4,506; 95% CI=1,298–15,644), kebiasaan jajan berisiko (OR=4,181; 95% CI=1,305–13,395), serta sarana pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat (OR=4,028; 95% CI=1,312–12,363). Secara bersama-sama, variabel-variabel tersebut mampu menjelaskan 38,3% variasi kejadian demam tifoid.

Kesimpulannya, jenis kelamin laki-laki, kebiasaan cuci tangan pakai sabun yang kurang baik, kebiasaan jajan berisiko, dan sarana pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat merupakan determinan utama kejadian demam tifoid pada anak dan remaja usia 5–19 tahun di wilayah kerja Puskesmas Pulau Bunyu. Penguatan promosi kesehatan, perbaikan perilaku cuci tangan pakai sabun, pengurangan kebiasaan jajan yang tidak aman, serta peningkatan sanitasi lingkungan terutama dalam pengelolaan sampah merupakan strategi penting untuk menurunkan peluang kejadian demam tifoid pada populasi berisiko tinggi.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2025-11-30